Perancang laman web, penulis blog, pesepeda, dan pelari.




Makan Malam di Alas Daun, Makan Tanpa Piring!

Category : Eatery, Review · by Mar 7th, 2019

Sebetulnya bukan sebuah budaya Sunda juga makan di atas daun pisang, karena kebanyakan dari kami sehari-harinya memang makan di atas piring seperti biasa. Sepengetahuan saya makan di atas daun pisang itu menjadi kebiasaan para petani priangan yang sering nimbel (timbel, membungkus makanan dengan daun pisang). Nimbel ini gunanya agar nasi tetap hangat dan fresh ketika dibawa ke ladang atau ke sawah untuk makan siang. Di beberapa restoran masakan sunda juga banyak ditemui nasi yang dibungkus dengan daun pisang. Tapi tetap diberi piring sebagai alasnya.

Sambal dan lalapan khas Sunda, selalu segar dan dibuat dadakan.

Di Alas Daun ini, seperti namanya, kita ditawarkan untuk makan dengan alas hanya daun pisang, tanpa piring. Jadi di atas meja, diberi daun pisang yang sudah dibakar sebentar (ini ada istilahnya tapi saya lupa), kemudian nasi dan lauknya disimpan di atas daun tadi, alas daun.

Akhir pekan lalu saya dan keluarga kembali ke Alas Daun untuk kesekian kalinya. Seperti biasa, setelah ditunjukan meja dan mendapat nomor meja, kami diarahkan untuk menuju meja berisi beragam pilihan menu yang bisa kita pilih. Ragam sajian itu kemudian dimasak, kalau belum matang, atau cukup dipanaskan untuk hidangan yang sudah matang.

Ada macam-macam ikan air tawar, daging ayam, cumi, udang, yang bisa dibakar maupun digoreng. Ada juga gepuk, babat, dan beberapa menu lain yang tidak saya ingat. Selain daging-dagingan, tentu saja ada aneka lalapan dan beberapa jenis sambal. Semuanya dimasak khas sunda. Juga ada osengan dan tumisan, mulai dari sayuran sampai tutut.

Saya sering pesan gepuk, tumis kentang goreng yang diiris tipis (mustofa), dan tumis jengkol yang juga diiris kecil-kecil, mereka menyebutnya dengan jengkol crispy. Hanya di sini saya bisa makan jengkol, biasanya saya tidak pernah suka dengan yang namanya jengkol apalagi petai.

Meja berisi bermacam hidangan yang bisa dipilih, sebutkan nomor meja untuk memesan.

Istri saya biasanya pesan ikan atau ayam bakar, selain tumis-tumisan tadi istri saya suka pesan oseng kiciwis sebagai tambahan. Lalapan juga komplit. Ada banyak jenis sambal yang ditawarkan, semuanya fresh, baru dibuat. Biasanya kami bawa sambal mentah satu porsi, sambal matang yang tidak terlalu pedas satu porsi untuk saya yang tidak begitu suka pedas. Sekali lagi, banyak pilihan sambal di sini, ada sambal terasi, sambel goang, sambal mangga, dan sambal lain yang juga saya tidak ingat namanya.

Malam itu saya juga mencoba sate maranggi sapi yang sepertinya menu baru di sini, tempat memesannya terpisah dengan tempat kita memesan tadi, tapi tidak terlalu jauh. Di tempat ini juga kita bisa memesan aneka karedok.

Setelah memilih hidangan, pelanggan lantas mengantri untuk membayar di kasir.

Setelah memesan kita langsung diminta untuk membayar pesanan, langsung di kasir di ujung tempat pemesanan yang tadi saya sebutkan. Selesai membayar, kita langsung duduk di tempat yang sudah ditunjukan saat pertama datang. Sambil menunggu lauk pauk datang, akan ada pelayan yang menggelar daun pisang sesuai jumlah orang yang akan makan. Di atas daun tadi kemudian diberi nasi putih (saat ini jadi hanya ada nasi putih, sebelumnya ada pilhan nasi merah) per satu porsi. Gelas dengan isi air teh tawar juga akan disajikan sesuai jumlah orang yang akan makan. Jumlah porsi ini sudah ditanyakan ketika kita membayar, tapi jangan khawatir, kalau tetiba ingin menambah porsi, tinggal minta pelayan untuk menambahkan porsi kemudian akan disediakan nota yang harus kita bayar sebelum pulang.

Sebagian hidangan yang sudah datang.

Saat menunggu juga kita akan ditawari jajanan, biasanya kelepon, otak-otak, atau tahu gejrot. Minuman selain teh tawar juga bisa kita pesan saat menunggu lauk pauk datang. Es campurnya enak, boleh dicoba kalau nanti datang ke sini.

Pengalaman makan dengan alas daun pisang ini memang unik, ada aroma tertentu yang dihasilkan alas daun pisang tadi yang membuat makan seakan lebih nikmat. Masakannya juga enak, rata-rata, penuh bumbu khas sunda. Sambalnya jangan ditanya, nilai plus karena banyak pilihan, jadi saya yang kurang suka pedas masih bisa menikmati beberapa jenis sambal yang tidak terlalu pedas. Yang suka pedas tentu saja lebih dimanjakan.

Situasi makannya akan seperti ini.

Kekurangan tempat ini hanya di sisi harga, harganya mahal, siapkan sekitar Rp. 75.000,- sampai Rp. 100.000,- per orang kalau mau makan di Alas Daun. Tergantung kepada jumlah dan jenis makanan yang dipesan memang. Pilihan nasinya juga ada baiknya ditambah seperti dulu, karena kadang nasi merah atau nasi hitam lebih nikmat.

Alas Daun terletak di pertigaan antara Jalan Citarum dengan Jalan Dipenogoro, tepat di seberang Pusdai di utara dan HDL di arah Baratnya. Jangan kaget kalau saat weekend dan jam makan malam/siang kita harus mengantri atau masuk waiting list, meski tempatnya besar dan daya tampungnya banyak.

SHARE :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.