Perancang laman web, penulis blog, pesepeda, dan pelari.




Sarapan di Bandung: Gempol

Category : Sarapan di Bandung · by Feb 20th, 2019
Suasana Jalan Gempol pagi hari.

Sebelum memulai, ada banyak daerah yang bernama Gempol di sekitar Bandung. Ada di sebelah Selatan, Timur dan yang satu ini di tengah. Gempol yang akan saya bahas adalah Gempol yang ada di Kecamatan Citarum, letaknya di belakang Gedung Sate yang populer. Saya simpan petunjuk dari Google Maps di akhir artikel.

Dari namanya saja sudah identik dengan makanan, gempol adalah adonan tepung beras yang diwarnai dan dibentuk (biasanya bulat) disiram dengan santan dan gula, es gempol. Dan makananlah yang banyak ditemukan di Jalan Gempol ini. Roti Gempol dan Kupat Tahu Gempol yang banyak dikunjungi berada di kawasan Gempol ini, tapi ternyata ada beberapa lagi lapak sarapan yang bisa dijadikan tujuan ketika memulai hari di Bandung setiap pagi.

Bubur Gempol

Walaupun Kupat Tahu Gempol dan Roti Gempol lebih dulu populer dan selalu padat pengunjung, tapi seringnya saya makan bubur kalau sarapan di Gempol. Bubur ayam yang dijual Mang Emod asal Majalengka ini merupakan salah satu bubur yang menurut saya paling bisa diandalkan ketika mencari asupan karbohidrat di pagi hari. Karena kebetulan ayah saya juga berasal dari Majalengka, jadi kami bicara Basa Sunda dengan logat yang sama.

Tapi logat yang sama bukan penyebab saya memberikan ulasan positif untuk bubur mang Emod, adalah perbandingan antara harga dan kenikmatan buburnya jadi alasan yang kemudian membuat saya selalu kembali sarapan di sini. Bubur yang dihidangkan adalah bubur kampung, murni hanya bubur beras yang diolah dengan kaldu ayam, tanpa campuran lain seperti santan dan penyedap.

Saya suka menyebut ini sebagai bubur kampung.

Porsi standar bubur di sini berisi bubur yang ditaburi ayam suir, kacang, bawang goreng dan seledri. Diberi kecap, ditaburi merica secukupnya. Kalau makan di tempat, kerupuk boleh diambil semaunya. Karena tanpa campuran santan dan penyedap tadi, buburnya tidak terasa terlalu gurih dengan tingkat kekentalan yang cukup. Teh tawar panas juga jadi penutup yang juara, apalagi ketika hendak membayar kita hanya diminta Rp. 6.000,- untuk satu porsi buburnya.

Ya, saya tidak salah tulis. Bahkan, sebelum tahun berganti kemarin, bubur di Gempol ini hanya Rp. 5.000,- kalau kita tidak menambah telur rebus atau hati dan ampela ayam yang digoreng.

Letak Bubur Gempol ini persis di belokan sebelum pertigaan yang menuju ke jalan Tirtayasa.
Perbandingan harga ke rasanya mantap, murah dan enak.

Tukang Gorengan

Ada beberapa tukang gorengan di Gempol, salah satu yang saya rekomendasikan adalah yang letaknya berada di antara lapak kopi dan bubur tadi. Harga gorengannya Rp. 1.000,- per satu gorengan. Ada pisang goreng, bala-bala (bakwan), tahu isi, dan lontong. Lontongnya ada dua jenis, isi oncom atau tanpa isi.

Satu lagi adalah yang terletak di sebelah lapak Kupat Tahu Gempol, bersatu dengan lapak penjual surabi (serabi). Ini juga lumayan enak, keunggulannya adalah gorengannya yang besar-besar. Tidak ada lontong di lapak ini, makan dua bala-bala pun cukup membuat perut kenyang.

Ini gorengannya enak, pake lontong dimakannya bikin kenyang.

Warung Nasi

Warung nasi seperti kebanyakan warung nasi lain yang menyediakan nasi putih panas dengan segala lauk-pauknya. Setidaknya ada dua warung nasi di sekitar Gempol, satu warung nasi Kamojang yang bersebelahan dengan bubur mang Emod. Dari namanya sudah ketahuan, bahwa yang jualan adalah orang asal Kamojang, Garut. Jadi yang ditawarkan juga adalah masakan sunda.

Satu lagi adalah Warung Sate Gempol, lebih mengunggulkan satenya walaupun pilihan sajiannya juga seperti warung nasi lain. Ada sate ayam manis yang jadi unggulannya, sate telur puyuh, sate cumi, sate sosis, dan sebagainya. Yang ini letaknya setelah belokan kupat tahu, sebelum Roti Gempol.

Pekerja warung nasi Kamojang sedang membakar sate ayam.

Untuk mereka yang lebih menyukai sarapan nasi, saya sarankan untuk makan di salah satu warung nasi tadi, walaupun sebetunya lebih cocok untuk makan siang ya. Masakannya juga enak-enak, tidak kalah dengan warung nasi Tegal, apalagi harganya, sudah pasti sangat terjangkau.

Warung sate Gempol, andalannya sate ayam manis.

Kupat Tahu Gempol

Kalau ini sepertinya sudah tidak lagi harus saya bahas, banyak sekali orang yang sudah mengenal kenikmatan kupat tahu di Gempol. Buktinya, setiap pagi, ada antrian panjang orang-orang yang hendak menikmati sarapan kupat tahu atau lontong kari di sini. Banyak pengunjung dari luar kota yang sedang liburan di Bandung sengaja bangun pagi untuk sarapan kupat tahu di Gempol.

Lapak kupat tahu di Gempol yang terkenal.

Kupat tahu dan lontong kari di sini enak, saya suka karena mereka menyajikan kupat tahu dan lontong karinya dengan kerupuk warna merah muda, seperti kerupuk yang kita temui di lontong padang. Kupatnya kenyal namun padat. Tahunya langsung diangkat dari penggorengan. Nikmat.

Berbeda dengan lapak lainnya, harga kupat tahu Gempol malah lumayan mahal menurut saya. Satu porsi kupat tahu atau lontong kari harus ditebus dengan harga Rp. 17.000,- sementara di tempat lain di Bandung, kita masih bisa mendapatkan satu porsi kupat tahu dengan harga kurang dari Rp. 15.000,-.

Roti Gempol

Ini juga sudah tidak lagi harus dijelaskan panjang lebar, sama terkenalnya dengan kupat tahu tadi. Awalnya merupakan home industri yang memproduksi roti untuk dijual di beberapa warung di sekitar Gempol, karena banyak peminat, maka disediakan pembakaran kalau-kalau mau dinikmati langsung di tempat. Ternyata malah terkenal, karena spesialisasinya roti sejak awal, mereka tahu betul bagaimana menyajikan roti yang enak.

Roti Gempol yang sekarang sudah punya cabang di banyak tempat.

Kesukaan saya adalah roti gandumnya yang dibakar dengan isian telur ayam. Saya juga suka donat mereka, donat biasa dengan taburan gula putih atau gula merah. Di sini juga rawan antrian, karena tempatnya kecil namun peminatnya banyak. Siapkan uang sekitar Rp. 30.000,- untuk sarapan di sini. Kalau datang rame-rame, bisa pesan porsi untuk rame-rame juga, lebih hemat.

Roti gandumnya sangat disarankan.

Catatan saya adalah suasana di sini enak banget, walaupun kecil dan berdesakan, tapi entah kenapa setiap saya berkunjung dan duduk di sini selalu betah. Pagi-pagi, makan roti gandum enak, minumnya kopi atau STMJ, nikmat!

Roti Cane Gempol

Ini lapak baru, jurjur saya sendiri belum mencoba makan cane di sini. Tapi dari lapaknya yang banyak pengunjung, saya optimis kalau rasanya enak. Lain kali saya berkunjung saya update postnya.

Lapak roti cane di Gempol.

Salt Noodle

Terletak bersebrangan dengan Roti Cane tadi, ini juga lapak baru dan belum pernah saya coba, padahal pernah mau saya coba suatu pagi namun sepertinya belum buka. Apa memang bukanya menjelang siang? Entahlah, yang pasti saya ingin coba. Lain kali saya update post ini kalau sempat mencicipi noodle di Salt Noodle Gempol.

Lapak mie yang belum pernah saya coba.

Airin Bakery

Nah, kalau ini saya sering beli. Langganan. Biasanya saya beli roti jagungnya, enak. Airin menawarkan roti yang empuk dengan isian yang enak.

Berbeda dengan Roti Gempol, yang lebih akrab dengan kebanyakan orang karena di sini yang dijual adalah roti kemasan yang dikemas plastik transparan. Biasanya roti produksi Airin bisa kita temukan di supermarket-supermarket sekitar Bandung.

Roti jagung yang saya sebut tadi adalah salah satu dari banyak pilihan isi roti Airin, ada yang manis seperti nanas, cokelat atau strawberry, ada juga yang asin seperti daging ayam atau sapi.

Harganya berkisar antara Rp. 7.000,- sampai Rp. 15.000,-.

Sepertinya saya melewatkan beberapa lapak di Gempol, kalau iya, saya akan update postnya lain kali saya berkunjung lagi.

Selain lapak-lapak di atas, ada juga penjual lain seperti surabi (serabi) dan kue cubit. Kalau datang pagi, kita akan menemui lapak penjual sayur di sini. Dulu, sebelum dikenal sebagai kawasan kuliner, Gempol sering disebut dengan pasar, Pasar Gempol. Tempat ini unik, kunjungi sekali dan anda akan mengerti kenapa sarapan di Gempol akan memberikan pengalaman unik yang ingin diulang lagi.

Kopi Gempol yang juga belum sempat saya coba.
Ada pedagang surabi juga. Lumayan lah, tapi ukurannya kecil-kecil.
SHARE :

(1) Comment

Rahmi Marlinawati
2 months ago · Reply

Buburnya enak, porsinya lumayan banyak. Tapi pasti abis sih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.