Perancang laman web, penulis blog, pesepeda, dan pelari.




Makanan Satu Tahun Sekali: Holycow! Steakhouse by Chef Afit

Category : Eatery, Review · by Apr 16th, 2019

Bukan biasanya saya dan keluarga makan di tempat seperti ini, Holycow! Steakhouse by Chef Afit adalah sebuah restoran khusus steak yang bertujuan untuk memperkenalkan wagyu kepada orang banyak dengan harga yang terjangkau. Lebih terjangkau tepatnya, karena tetap saja, yang namanya wagyu pasti mahal. Dan mahal lah yang membuat saya yakin, kami akan makan di sini paling banyak ya satu tahun sekali!

Pintu masuk Holycow!

Walaupun ini adalah kali kedua kami berkunjung, namun saya pribadi masih belum berani (bisa?) pesan wagyu. Kami hanya pesan satu wagyu saja, untuk Ibu mertua, sementara saya dan yang lainnya hanya pesan tenderloin. Australian Prime Beef Tenderloin tepatnya, 200 gram, kategori yang paling murah di sana. Dan itupun masih mahal untuk ukuran saya.

Saat memesan kami diinformasikan oleh pelayan bahwa daging jenis tersebut tebal sekali, sehingga konsekuensinya adalah pertama harus dibelah kupu-kupu kemudian tingkat kematangannya tidak disarankan ada di tingkat kematangan well done. Keduanya karena akan menghasilkan hidangan yang tidak maksimal, “Alot” katanya.

Area non-smoking Holycow! yang nyaman dengan penerangan yang tajam dan nuansa putih dengan aksen merah yang menarik.

Jadi kami pesan biar dibuat sematang mungkin dengan pilihan tingkat kematangan pilihan sang pelayan, jadilah diturunkan satu tingkat. Medium well lah yang akhirnya disarankan, baiklah, saya pribadi kurang mengerti jadi iya-iya saja. Saya pesan dengan mashed potatoes, Ami dengan french fries. Pilihan sausnya ada beberapa, ada buddy sauce (saus khusus mereka dengan campuran daun basil), mushroom sauce, barbeque sauce, dan blackpepper sauce. Pilihan saya jatuh di mashroom sauce, karena saya suka jamur.

Ketika pesanan datang, saya lumayan puas melihat tampilannya, ternyata 200 gram itu lumayan besar ya. Maklum, tidak berpengalaman dengan jumlah daging dengan ukuran gram-graman. Kentang tumbuk saya tidak terlalu banyak, pun begitu dengan kentang goreng Ami, sepertinya mengimbangi dagingnya yang lumayan banyak. Yum.. tidak sabar untuk mencoba.

Australian Prime Beef Tenderloin dari Holycow!
Ini versi dengan kentang gorengnya.

Tenderloin dengan daging sapi prime asal Australia ini ternyata termasuk daging yang padat serat, pantas saja pelayannya biang harus dimasak dengan tingkat kematangan tidak melebihi medium well, pasti akan terasa alot kalau dibuat well done. Ketika dimakan, saya malah berpikir ini sih harusnya dibuat medium saja, atau malah medium rare kalau berani mencoba.

Ketika dipotong, saya malah bertemu serat yang lumayan alot dan sulit untuk dipotong. Nah, kan, ketauan jarang makan daging, ternyata yang saya potong tadi bagian uratnya. Jadi alot. Oke, putar piring deh. Ternyata enak, empuk loh bener. Lumayan berbeda sih rasanya dengan steak lima puluh ribuan yang sering saya coba. Bumbu di dagingnya penuh rempah, saya coba colek saus jamurnya, dan nagih! Saus jamurnya gurih, namun sayang menurut saya rasa khas jamurnya malah terlalu tipis. Kalau saja lebih tebal, pasti akan lebih enak.

Area merokok di bagian belakang.

Steak disajikan dengan sayuran, jagung dan buncis yang dimasak tidak terlalu matang. Satu lagi hal yang disayangkan adalah ketidakhadiran potato wedges sebagai pilihan pendamping dagingnya, hanya ada kentang goreng dan tumbuk. Wedgesnya dijual dalam menu terpisah, Herbs Wedges namanya.

Selain steak, kami juga pesan sup untuk si kecil Kinanti Embun, semacam sup jamur tapi kok saya lupa ya namanya apa. Juga satu porsi Meatballs, tiga butir bola-bola daging yang dibakar disajikan dengan saus yang juga bisa dipilih. Keduanya enak, namun sayang Kinanti keburu kenyang jadi hanya makan sedikit-sedikit. Kami juga cukup penuh, karena porsi hidangannya yang memang cukup untuk perut saya. Alhamdulillah boleh dibungkus, lumayan buat makan Kinanti nanti sore.

Sup. entah apa judulnya saya lupa.

Saya juga sempat mencicipi tenderloin wagyu pesanan Ibu mertua, ternyata enak ya, empuk banget. Dagingnya juga punya tekstur yang berbeda, sulit saya menjelaskannya, tapi memang enak ini wagyu di Holycow!.

Saya minum Sjora Mango Peach, minuman dengan rasa mangga dan peach, enak ini. Tidak terlalu asam, namun tetap segar. Ami pesan Blackcurrant Nestle, rasanya ya segar, blackberry kan. Teh manis panas atau dingin di sini bisa refill sampe puas, tapi bukan buat dibagi-bagi ya.

Sjora Mango Peach, enak ini seger tapi masih ada nuansa creamynya.
Blackcurrent

Holycow! Steakhouse by Chef Afit ini terletak di Jl. Sultan Tirtayasa No. 30, sebelum belokan ke Pasar Gempol lah, setelah Sari-Sari kalau datang dari arah Dago. Tempatnya sebetulnya tidak terlalu luas, tapi ada sekitar 20 meja lah, smoking area dan non-smoking area. Nuansa tempatnya yang serba putih dengan tambahan merah memberikan suasana yang cerah, bersih dan nyaman. Sayang parkirannya kurang luas, sepertinya masalah parkiran memang selalu jadi masalah untuk tempat makan di Bandung.

Yang saya suka, meski tidak terlalu luas, tapi di sini ada mushala.

Ini mushalanya.

Banyak mural-mural dan karya grafis bernuansa sapi menghiasi dinding tempat ini, dengan tone yang dijaga agar tetap dominan putih dan merah. Unik.

Salah satu muralnya.

Untuk harga, begini, sebetulnya tempat ini merupakan tempat yang dibuat agar kita bisa menikmati steak enak (premium) dengan harga yang tidak premium. Jadi kalau dibandingkan dengan resto premium atau fine dinning, ya jadinya malah lebih murah. Tapi untuk saya yang tidak terbiasa membayar Rp. 200.000,- untuk satu kali makan sendiri, ya jadinya mahal. Tapi worth to try kok, trust me.

Salah satu hiasan dinding di Holycow!
Ini di kaca depan nih, bagus ya?
Dan ini adalah menunya.
SHARE :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.