Perancang laman web, penulis blog, pesepeda, dan pelari.




Rangkuman 2018: Kopi Enak di Bandung

Category : Coffee · by Jan 4th, 2019

2018 lalu saya mulai menyukai kopi, setelah rutin ngopi di rumah hampir sehari dua kali saya juga mulai rajin berkunjung ke kedai kopi di sekitaran rumah dan tempat kerja.

Membaca sekilas Bandung Coffee Scene Map, terdapat 240 kedai kopi yang terdaftar di sana. Itu berarti banyak sekali kedai kopi di Bandung, sementara yang sudah saya kunjungi mungkin baru belasan kedai.

Perlu diketahui bahwa saya juga bukan penikmat kopi yang mengerti, mempelajari dan menekuni minuman pengantar kafein ini. Saya hanya menikmati kopi sebagai teman vaping atau energy booster dikala “nundutan” di kantor.

Saya juga jarang sekali memesan kopi hitam (Americano, Long Black) atau Espresso, seringnya dua pilihan saya jatuh di Piccolo atau Vietnam Drip. Jadi, ya, bukan penikmat kopi sejati.

Terlepas dari semua itu, saya suka ngopi dan inilah rekomendasi beberapa kedai kopi juara yang sempat saya kunjungi di 2018.

YUMAJU

Terletak di sayap Dago tepatnya di Jl. Maulana Yusuf, Yumaju punya tempat strategis. Awalnya ragu untuk mencoba ngopi di sini karena tempatnya yang terlihat kecil, namun ternyata setelah mencoba satu kali saya jadi sering bolak-balik ke sini.

Kelebihan Yumaju justru ada di tempatnya yang tidak terlalu luas, meski begitu ambiencenya terasa hangat. Pengunjung jadi tidak sungkan untuk berbagi meja dengan pengunjung lain. Dari situlah obrolan kecil timbul, yang ujungnya mengarah ke kolaborasi karena banyak penggiat industri kreatif yang menjadi langganannya. Sesuai tagline mereka “Collaboration over Coffee”. Yumaju sering menjadi tempat pameran, tercatat seniman seperti Rukmunal Hakim beberapa kali menggelar karyanya di sana. Juga sering digelar diskusi kecil mengenai beberapa hal yang sedang hangat di komunitas sosial.

Yumaju juga menjadi titik temu beberapa klub olahraga, yang saya ketahui klub lari Riot Bandung selalu memulai group run Sabtu paginya di sini. Ada promo khusus bagi mereka yang sedang olahraga dan sempat mampir di sini. Pujian bagi Yumaju yang berkomitmen untuk selalu buka pukul 7 pagi!

House blend mereka Raja Biak Biak biasanya jadi favorit di sini.

ABRAHAM & SMITH

Namanya unik, seunik kedainya. Bagaimana tidak, kedai ini terletak di dalam gudang militer di bilangan Gudang Selatan. Suasananya tidak gemerlap atau minimalistik seperti kebanyak kedai kopi di Bandung, Abraham & Smith malah menyajikan suasana yang rustic dan sedikit temaram.

Saya masih ingat kolaborasi mereka dengan Risa Saraswati yang meluangkan harinya untuk bercerita mistis sekaligus sesi diskusi dan tandatangan rilis bukunya awal tahun lalu. Jadi bisa dibayangkan betapa uniknya tempat ini.

Bukan hanya keunikan yang mereka tawarkan, kopi berkualitas yang dikumpulkan dari daerah sekitar Bandung. Terakhir saya berkunjung, biji kopi dari Tangkuban Parahu membuat saya betah karena kenikmatan sajian Vietnam Drip di sini.

Abraham & Smith juga secara aktif mendukung kegiatan komunitas langganan mereka. Sebuah sesi skateboarding bersama atau hanya sekedar main pingpong sering digelar Abraham & Smith.

Istri saya memberi catatan khusus agar saya menulis tentang Es Kopi Laut dari Abraham & Smith, dengan kualitas spiritual yang ditawarkan mampu menyihir dia untuk mengajak saya kembali lagi ke sini.

Rahasia kecil: orang-orang ini boros giveaway, jangan kaget kalau lagi ngopi tiba-tiba diberi merch. Abraham & Smith yang super keren.

TWO CENTS

Two Cents merupakan kedai kopi yang cukup lama, didirikan 2014 Two Cents termasuk kedai yang bertahan lama. Kedai ini bertahan tentu saja karena kualitas. Dan kualitaslah yang akan didapati di sini.

Dari dua kedai di atas, Two Cents termasuk yang dapat dikategorikan kepada kedai mahal. Untuk satu cangkir Piccolo saya harus membayar sekitar 40 ribu. Meski begitu, harga yang kita bayar berbanding lurus dengan kenikmatan kopi sajian mereka.

Two cents menawarkan keseriusan dalam sajian kopi dan hidangannya. Ada makanan berat juga dijual di sini. Saya dan keluarga adalah penggemar berat menu sarapan mereka.

Two Cents terletak di sayap Jalan Riau (Martadinata) yang ramai dengan turis, dan dekat dengan Jalan Progo yang merupakan area penuh cafe di Bandung.

Terakhir saya berkunjung, mereka menawarkan biji kopi dari Boyolali yang jarang saya temui di kedai lain.

Ambience ngopi yang ditawarkan juga lengkap, untuk mereka yang suka kerja di cafe, ngumpul ngobrol dengan keluarga atau teman, maupun bagi mereka yang memang datang hanya untuk ngopi. Tempatnya lumayan luas, jadi meskipun pelanggannya banyak jangan khawatir mengantri terlalu lama.

KOPI TOKO DJAWA

Kedai kopi yang menempati bekas Toko Buku Djawa yang terkenal di Jalan Braga ini selalu dipadati pengunjung. Tidak pernah saya datang tapi tidak antri, bahkan untuk take away sekalipun.

Saya suka es kopinya, murah dan enak. Saya juga penggemar berat donat gula jawanya, paduan yang sesuai kalau ngopi pagi menuju siang.

Tempatnya tidak terlalu besar, lebih kecil dari Yumaju sepertinya, itulah kenapa selalu ada waiting list kalau berkunjung di sini. Meski begitu, sangat layak untuk dikunjungi. Karena menggunakan tempat bekas toko buku ikonik, fasad bangunannya tidak diubah. Interiornya juga dibuat sedemikian rupa sehingga nuansa tempo dulunya masih terasa. Disesuaikan dengan tema Jalan Braga tentu saja.

SELATAN JAKARTA

Tidak ada yang spesial sebenarnya dari kedai mungil yang ada di Jalan Dago ini, tapi saya dibuat beberapa kali kembali ke sini. Bagi saya, Selatan Jakarta menarik karena dekat dengan kantor dan rumah sehingga mudah sekali dijangkau bahkan ketika saya bersepeda ke kantor sekalipun.

Selatan Jakarta Dago ini merupakan cabang kedai utama mereka di Pasar Santa. Jangan berharap ada mesin berharga puluhan juta kamu temui di sini, semua serba manual. Itulah kenapa harga yang mereka tawarkan juga sangat terjangkau.

Meski terletak di Dago, lokasi kedai ini terpencil. Saya menemukan tempat ini tanpa sengaja ketika hendak menukar valuta asing. Okelah kalau saya mau menyebutnya hidden gems.

Kopaja Kebut, es kopi susu, biasa saya pesan di sini. Cocok untuk konsumsi setelah makan siang. Dan ya, ternyata ngopi enak tidak selalu harus mahal.

Cukup lima dulu untuk tahun ini, semoga tahun depan bisa menulis lebih banyak lagi kedai kopi yang bisa jadi referensi ngopi di Bandung. Juga semoga “kemampuan” saya menikmati kopi sedikit meningkat sehingga bisa memberikan ulasan yang lebih komprehensif.

Sementara itu, silahkan berbagi kedai kesukaanmu di kolom komentar. Siapa tau kita bisa ngopi bareng sambil ngobrol.

SHARE :

(2) comments

Adi
4 months ago · Reply

mantap mantapp rekomendasinya , saya juga ada rekomendasi cafe murah di Bandung , bisa di cek di https://www.ceritadikit.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.