Perancang laman web, penulis blog, pesepeda, dan pelari.




Blogging Gadget: Sony Alpha a5100 (Kesan Pertama)

Category : Gadget, Review · by Mar 18th, 2019

Terakhir kali saya membeli kamera adalah sekitar tahun 2011, itupun bukan kamera yang benar-benar baru, sebuah kamera digital Kodak dengan resolusi maksimal 10 megapixel eks-display yang didapat di sebuah pusat perbelanjaan ritel. Harganya sekitar Rp. 1.200.000,- kalau tidak salah, steal deal karena harga baru kamera ini beberapa kali lipat saat itu. Kamera lama, keluaran tahun 2007 kalau tidak salah juga.

Kamera tersebut lebih banyak digunakan untuk dokumentasi pribadi dan menangkap beberapa gambar untuk diunggah di Instagram pada tahun-tahun kemudian walaupun jarang karena lebih memilih kamera handphone yang jauh lebih canggih. Kualitasnya memang tidak bagus, tapi cukup membuat saya senang karena punya alat untuk mendokumentasikan beberapa kali liburan dengan teman-teman, kemudian dengan pacar yang sekarang menjadi istri saya. Juga ketika mendokumentasikan betapa mengagumkannya perempuan hamil ketika istri saya mengandung Kinanti.

Seiring dengan berkembangnya teknologi kamera handphone, saya lebih memilih untuk menggunakan kamera dari handphone beberapa tahun ini. Termasuk untuk kepentingan menulis blog dan media sosial. Terutama ketika akhir tahun 2012 lalu saya mendapatkan Lumia 900, handphone pertama saya dengan lensa Carl Zeiss yang lumayan bisa diandalkan. Saya bahkan membuat blog khusus yang isinya hasil foto dari Lumia 900 ini.

Tahun 2014 lalu, istri saya mulai menggunakan Android, Asus Zenfone 2, karena kameranya juga enak, saya sering meminjam handphone tersebut untuk post di blog dan media sosial. Satu tahun berikutnya handphone tersebut pindah tangan, karena istri mulai pakai iPhone 5s. Zenfone 2 sebagai alat dokumentasi bertahan sampai tahun 2017, ketika saya membeli Zenfone 3 Max dengan kamera yang luar biasa bagus untuk ukuran saya saat itu, bertahan sampai sekarang.

Asus Zenfone 2
Asus Zenfone 3 Max

Ketika mulai menulis blog lagi awal tahun ini, saya sadar bahwa sudah saatnya membeli sebuah kamera yang sedikit lebih bagus sebagai alat dokumentasi visual. Karena saya juga sesekali mengunggah video di kanal Youtube, saya juga butuh kamera yang bisa dijadikan alat vlogging. Bulan Maret ini, mulailah saya mencari kamera yang sesuai dengan kebutuhan saya dan tentu saja budget. Kamera tersebut harus memenuhi beberapa poin yang saya anggap penting, diantaranya:

  1. Tidak lebih atau berada di kisaran harga Rp. 5.000.000,- karena itu adalah budget paling realistis untuk saya saat ini
  2. Harus memiliki kemampuan untuk diganti lensanya, karena dengan begitu ketika memiliki budget lebih saya jadi bisa mengganti lensanya dengan yang lebih bagus
  3. Harus memiliki layar yang bisa diflip, jadi suatu saat saya butuh konten untuk kanal Youtube saya bisa menggunakan kamera ini
  4. Kecil dan ringan, saya belum terbiasa dengan kamera yang besar dengan lensa yang juga besar, juga agar mudah untuk dibawa ke mana-mana
  5. Brand yang sudah berpengalaman dalam pembuatan kamera dengan service resmi yang ada di Bandung

Dan dimulailah pencarian kamera semi-profesional pertama saya, hal pertma tentu saja melihat marketplace dan menengok beberapa kamera yang masuk ke budget saya. Ternyata banyak. Ada brand-brand baru yang saya tidak kenal muncul, saya jadi tahu bahwa Xiaomi juga ternyata membuat kamera, ya, bahkan mereka juga menjual handuk memang, tapi saya kaget karena ternyata banyak brand yang mengeluarkan kamera mirrorless yang tidak pernah saya dengar sebelumnya sebagai produsen kamera. Oh ya, saya memilih mirrorless karena pertimbangan kamera jenis tersebut akan ringan dan compact. Walaupun sebetulnya ada yang besar dan berat juga untuk spesifikasi yang lebih tinggi, namun tidak seberat DSLR tentu saja. Hal kedua adalah mengunjungi toko-toko kamera, dan mencoba satu per-satu kamrea-kamera tadi. Dari kunungan-kunjungan saya juga saya mengerti bahwa harga di toko jauh lebih mahal ketimbang harga di online marketplace. Bisa beda 1 sampai 2 juta loh!

Dengan mempertimbangkan kelima poin tadi, dari sekian banyak pilihan akhirnya saya mempersempit menjadi hanya dua kandidat saja: Sony Alpha a5100 dan Canon EOS m100. Ada satu kamera Fujifilm yang saya sukai sebetulnya, namun harganya terlalu jauh dengan budget yang saya siapkan.

Baik a5100 maupun m100 memiliki semua kriteria yang saya inginkan, hasil riset (googling) juga menunjukan bahwa tidak banyak perbedaan antara keduanya. Harganya hampir sama, sensor yang digunakan sama, jumlah pixelnya hampir sama, fitur-fiturnya juga sama. Keduanya merupakan kamera mirrorless yang bisa diganti lensanya, kecil dan ringan, memiliki layar yang bisa diflip, dan dikeluarkan dua brand besar Sony serta Canon. Bahkan kekurangannyapun sama, sama-sama tidak memiliki audio jack, sama-sama tidak bisa merekam dengan resolusi 4k, dua hal yang belum saya butuhkan untuk saat ini. Saking samanya, saya malah jadi bingung sendiri.

Setelah puluhan review yang saya baca dan video yang saya tonton tentang kedua kamera ini, saya akhirnya memutuskan untuk memilih Sony Alpha 5100 atau a5100. Pertimbangannya adalah lensa Sony yang lebih banyak dari Canon (untuk mount EF-M Canon dan mount E Sony) membuktikan bahwa sebagai user saya akan menemukan lebih banyak ragam pilihan lensa di kemudian hari. Selain itu, a5100 juga memiliki Focus Points yang lebih banyak (179) dibanding m100 (49), ini berarti saya akan bisa menemukan kemudahan dalam memotret objek yang beragam. Sony juga menawarkan luas sensor yang lebih luas (10% lebih luas), memberikan efek depth of field yang lebih baik.

Akhirnya saya memilih Sony Alpha 5100
Membuka kemasan gadget baru memberikan sensasi kesenangan tersendiri.

Kedalaman warna a5100 juga lebih dalam, mungkin ini penyebab kenapa saya lebih menyukai warna yang disajikan a5100 daripada m100 baik dari foto maupun saat merekam video.

Sony a5100 menggunakan sensor APS-C CMOS dengan besaran 24 megapixel. a5100 ditanami layar sentuh sebesar 3″, tanpa viewfinder, yang bisa diputar 180 derajat ke atas (flip). Layar tersebut dapat digunakan sebagai pengatur fokus dengan sentuhan. Konektifitas menggunakan kabel juga wifi, sehingga akan memudahkan saya memindahkan hasil foto atau video ke handphone untuk keperluan sosial media ataupun mobile blogging.

Sensor APS-C Sony a5100

Lensa bawaannya adalah seri Power Zoom 16-50mm, sudah cukup untuk keperluan saya yang hanya akan memotret makanan maupun interior sebuah tempat makan, karena blog ini lebih sering menyajikan itu. Dari beberapa review saya lihat juga menghasilkan gambar yang lebih luas (lebar) daripada pesaingnya, satu lagi alasan untuk memilih a5100.

Ini tampilan depan Sony a5100
Tampilan belakangnya, layarnya itu bisa diflip 180 derajat ke atas.

Videonya mampu merekam sampai dengan resolusi full-HD, 1080p, dengan kecepatan sampai dengan 60 fps. Dan yang paling saya suka adalah warnanya yang lebih natural.

Bodynya memang terbuat dari plastik, namun tidak terasa ringkih ketika digenggam. Yang saya beli warnanya nuansa cokelat, saya mau beli yang warna hitam namun saat itu yang tersedia hanya warna cokelat. Build qualitynya lumayan bagus, tidak terlihat dan terasa sebagai kamera entry-level dengan harga murah.

Kecil dan ringan, enak untuk digenggam.

Sampai di sini dulu cerita tentang kamera baru saya, mudah-mudahan bisa menampilkan gambar maupun video yang lebih baik ke depannya, karena dengan alasan tersebut juga saya menyisihkan budget untuk membeli sebuah kamera. Dalam satu atau dua bulan kedepan saya akan memposting artikel tentang impresi pemakaian Sony a5100 ini, dengan hasil gambar maupun videonya tentu saja.

SHARE :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.