Perancang laman web, penulis blog, pesepeda, dan pelari.




Sarapan di Bandung: Warung Taru

Category : Sarapan di Bandung · by Mar 12th, 2019

Saat kuliah dulu, saya beberapa kali mampir ke Warung Taru, tanpa tahu nama tempatnya. Baru setelah menikah saya tahu bahwa nama warung yang sejak pertama kali datang sudah membuat saya terkesan ini adalah Taru.

Nama Taru terpampang sebelum pintu masuk.

Alasan saya terkesan adalah pertama karena tempatnya yang nyaman, walau namanya warung, tapi tempatnya lega dan sama sekali tidak seperti warung yang ada di pikiran saya. Nuansanya dibuat seperti berada di rumah jaman “baheula” yang homy dan hangat, di tengah kawasan Dago Atas yang sejuk. Mungkin itu alasan tempat ini dibuat terbuka, agar udara segar Dago bisa bebas dinikmati para pengunjung. Ornamen kayu di mana-mana, kursi, meja, plafon, sampai tulang-tulang bamgunannya dari kayu. Perpaduan dengan batu alam, menjaga agar hawa sejuknya tetap terjaga.

Ini titik kesukaan Kinanti, banyak jajanan yang bisa dia ambil.

Yang kedua tentu saja sajiannya, walau sederhana namun menurut saya merupakan hidangan yang pas untuk dinikmati saat sarapan. Beberapa hidangan di sini memang diperuntunkan untuk sarapan, ada roti bakar, soto ayam dan nasi kuning. Yang terakhir disebut adalah menu andalan mereka, yang kebetulan jadi kesukaan saya kalau berkunjung.

Nasi kuning di Warung Taru dihidangkan dengan kering tempe (yang dicampur dengan suuk (kacang tanah)), irisan telur dadar, dan sambal. Lalapannya daun surawung dan bonteng. Ditaburi bawang goreng yang harum. Lalu ada satu potong paha atau dada ayam utuh. Sarapan besar. Nasi kuningnya enak, lembut tapi tidak lembek. Ayam gorengnya juga enak. Sambalnya lumayan pedas, kalau kurang sepertinya bisa minta tambah.

Nasi kuning Warung Taru, disajikan dengan satu potong paha ayam atau dada sayap.

Roti di sini juga banyak yang pesan, ada roti bakar manis dengan isi selai homemade aneka rasa. Atau roti asin dengan isi kornet, telur, dan keju. Dibakar di tempat, kita bisa menyaksikan proses pembakarannya di samping kasir. Menambah sensasi tidak sabar untuk segera menikmati.

Selain makanan berat ada juga gorengan yang disajikan dalam porsi yang lumayan besar. Saat berkunjung kemarin kami memesan satu porsi bala-bala, disajikan dengan kecap yang dicampur dengan biji cengek (rawit). Satu porsi bala-bala isi lima, besar-besar pula. Selain bala-bala ada juga tahu tepung, tempe mendoan dan pisang goreng. Pisang gorengnya khas, bahan dasar pisang tanduk yang besar dan lembut digoreng tepung kemudian ditaburi gula merah atau gula aren. Sayang karena lama (saat kami datang Minggu pagi adalah jam paling sibuk di sini), jadi pesanan pisang goreng kami batalkan.

Bala-bala, cara makannnya dicoel (celup) kecap rawit yang ada di sebelahnya itu.

Minggu pagi di Warung Taru memang selalu penuh pengunjung, pelanggaan mereka adalah para pesepeda yang datang dari arah bawah (Dago) baik yang sengaja makan terus kembali turun maupun yang akan melanjutkan perjalanan ke arah Dago Pakar atau Cigadung. Jangan kaget kalau ada beberapa sepeda terparkir di sudut-sudut Warung Taru.

Pagi itu saya memesan kopi susu, ada kopi arabika dari kopi Aroma yang menjadi kopi khas Bandung. Juga ada versi rubustanya dari Aroma. Selain itu seingat saya ada kopi Lampung. Kopi susu tadi disajikan dengan metode vietnam drip, jadi kopinya terasa lebih ringan namun tetap wangi khas Aroma arabika. Enak lah, jaminan kualitas kalau bicara satu brand kopi ini.

Ami memesan gula asem, minuman berbahan dasar tamarin dan gula merah yang diseduh air panas. Rasannya asam manis, memberikan efek segar sekalligus hangat. Cocok untuk memulai hari Minggu di Bandung.

Vietnam drip kopi arabika dari Aroma, sebelahnya gula asem panas.

Di luar segala sesuatu yang kami sukai di Warung Taru, masalah parkir adalah sesuatu yang harus menjadi perhatian. Parkirannya hanya muat sekitar empat mobil saja. Kalau tidak sedang bersepeda, saya selalu menggunakan motor kalau mau sarapan di sini. Alternatif lain adalah angkot, cukup lima sampai sepuluh menit dari Simpang Dago ke sini.

Walau menawarkan sajian yang sederhana, harga makanan di sini tidak murah. Satu porsi nasi kuning contohnya, harus ditebus dengan harga Rp. 22.000,- sebelum pajak. Memang ada satu potong ayam goreng sebetulnya, tapi tetap terasa mahal dibanding harga nasi kuning pada umumnya. Atau satu porsi gorengan yang dibandrol sekitar Rp. 13.000,- itu berarti Rp. 2600,- per potong.

Tapi harga tadi memang sebanding dengan hidangannya yang enak, belum lagi tempat yang nyaman dan pemandangan bagus di sekitarnya. Salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat pagi hari di Bandung.

Salah satu sudut di Warung Taru, jembatan yang memisahkan tempat utama dengan bangunan di sebelahnya yang juga terdapat kursi dan meja untuk pengunjung.
View seperti ini yang membuat pengunjung nyaman buat sarapan di Warung Taru.
SHARE :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.