Ramona dan Akhir Pekan Tidak Biasa
Jadi akhir pekan kemarin Ramona mengutarakan sesuatu yang sulit untuk tidak saya bahas kemudian. Sialnya, bahasan itu mengarah kepada pembuktian nyata dari percakapan yang tadinya argumentatif menjadi sesuatu yang sifatnya berdasarkan pengalaman, seperti dia bilang. Bahasannya sederhana, sesuatu yang mungkin ada di sekitar kita, bahkan mungkin sangat dekat. Tapi karena memang sifatnya yang sering bermusuhan dengan norma lagi budaya, kehadirannya sering tak terasa, invisible. Sabtu sore itu kami bicara tentang seks berbayar. Seks adalah bahasan yang menarik, kedua dari kami menganggap topik yang tabu untuk kebanyakan orang ini adalah suatu topik yang terlantar, yang dibahas hanya oleh mereka yang punya keberanian, oleh mereka yang siap menghadapi konsekuensinya. Karena ketika kita mengakrabi sesuatu yang dikucilkan, maka kemungkinan untuk ikut dikucilkan juga besar. Kitalah tahu, manusia memang senang sekali menghaikmi. Seolah setiap orang yang ada di depan mata itu transparan, sehingga bisa dilihat apa yang dia punya di dalam sana. Mungkin, ini mungkin saja, asal mula pakaian diciptakan juga untuk menutupi kekhawatiran ini. Orang mengenakan pakaian bisa dibilang sebagai orang yang punya malu, sesuatu yang menahan mereka dari hal-hal yang tidak disukai orang di sekitarnya. Padahal, tidak selalu begitu. Itu hanya mungkin, siapa yang tahu sejarah lagi pula? Sejarah ditulis oleh mereka yang…
View the article
