Soto ayam, atau khususnya soto, dapat kita temui di hampir semua daerah di Indonesia. Soto ayam saja kita kenal dengan soto khas dari Madura atau Lamongan, atau yang juga sering ditemui di Yogyakarta, beda lagi sotonya. Atau soto ayam Boyolali yang kuahnya bening, tidak diberi kunyit seperti tiga jenis yang saya sebut tadi. Pun begitu, soto ayam dari Jawa ini mirip-mirip satu sama lain. Misalnya soto ayam khas Lamongan dengan soto ayam khas Madura, bedanya hanya di penggunaan koya dan soun. Itulah kenapa soto khas Madura biasanya lebih gurih, dengan kuah yang lebih pekat. Sementara soto Lamongan biasanya lebih berlemak, hasil dari kuahnya yang menggunakan kaldu dari daging dan lemak sapi. Panjang bahasan mengenai soto ini, malah terpikir untuk kelak dibuatkan bahasan tersendiri tentang kekhasan soto dari seluruh pelosok nusantara. Mudah-mudahan ada waktu, tenaga dan rejekinya. Saat ini saya sedang membahas Soto Ayam Khas Madura yang ditemui di Simpang Dago. Alasan bungkus soto di sini adalah seperti biasa, murah dan dekat rumah. Seperti yang sudah disampaikan, soto ayam Madura punya kuah yang lebih kental dan gurih, di beberapa penjual soto kuahnya yang sudah gurih kemudian ditambah lagi dengan koya. Jadi gurihnya terlalu, sulit untuk dibilang nikmat. Di Soto Ayam Madura…

View the article

Sebagian orang menyukai roti yang tebal dan besar dengan tekstur yang lembut seperti yang kita temui di brand-brand roti besar di mall. Ami (istri saya) lebih menyukai roti yang padat dengan tekstur khas, seperti roti yang dijual di Toko Sidodadi yang tadi pagi kami bungkus untuk bahan cemilan di rumah neneknya Kinanti. Belanja di Toko Sidodadi memang harus pagi, jam 10 toko buka dan sudah ada antrian di sana. Siang sedikit, tidak banyak pilihan yang disediakan karena habis. Roti di sini boleh dibilang legendaris, silahkan tanya orang tua atau bahkan silahkan tanya kakek/nenek yang tinggal atau pernah tinggal di Bandung. Kemungkinan besar beliau pernah setidaknya mendengar tentang toko ini. Beberapa tempat di sekitar Alun-alun Bandung memang sudah ada sejak tiga atau empat generasi sebelumnya. Seperti yang sudah pernah saya sampaikan dalam Sarapan di Bandung: Kopi Purnama. Atau Kopi Aroma yang insya Allah saya bahas di lain hari. Roti Toko Sidodadi memiliki tekstur yang khas, padat, tapi tetap lembut di mulut. Rotinya tidak “hampos” seperti roti mall. Lalu untuk isiannya, sepertinya mereka menggunakan selai dengan bahan dasar buah asli. Contohnya roti nanas kesukaan Ami, selai nanasnya berserat, dan terasa seperti nanas asli dengan tambahan gula yang tidak banyak. Lagi-lagi, berbeda dengan…

View the article

2018 lalu saya mulai menyukai kopi, setelah rutin ngopi di rumah hampir sehari dua kali saya juga mulai rajin berkunjung ke kedai kopi di sekitaran rumah dan tempat kerja. Membaca sekilas Bandung Coffee Scene Map, terdapat 240 kedai kopi yang terdaftar di sana. Itu berarti banyak sekali kedai kopi di Bandung, sementara yang sudah saya kunjungi mungkin baru belasan kedai. Perlu diketahui bahwa saya juga bukan penikmat kopi yang mengerti, mempelajari dan menekuni minuman pengantar kafein ini. Saya hanya menikmati kopi sebagai teman vaping atau energy booster dikala “nundutan” di kantor. Saya juga jarang sekali memesan kopi hitam (Americano, Long Black) atau Espresso, seringnya dua pilihan saya jatuh di Piccolo atau Vietnam Drip. Jadi, ya, bukan penikmat kopi sejati. Terlepas dari semua itu, saya suka ngopi dan inilah rekomendasi beberapa kedai kopi juara yang sempat saya kunjungi di 2018. YUMAJU Terletak di sayap Dago tepatnya di Jl. Maulana Yusuf, Yumaju punya tempat strategis. Awalnya ragu untuk mencoba ngopi di sini karena tempatnya yang terlihat kecil, namun ternyata setelah mencoba satu kali saya jadi sering bolak-balik ke sini. Kelebihan Yumaju justru ada di tempatnya yang tidak terlalu luas, meski begitu ambiencenya terasa hangat. Pengunjung jadi tidak sungkan untuk berbagi meja dengan…

View the article

Di Bandung ini penjual sate itu ada di mana-mana, sama seperti tukang nasi goreng. Ada yang enak banget, punya nama seperti sate Pak Gino atau Sate Maulana Yusuf, tapi harganya mahal dan biasanya antri karena yang beli bukan hanya dari daerah sekitar, tapi memang sebanding dengan kualitas rasanya. Sisanya, adalah lapak pinggir jalan seperti Sate Cisitu ini. Saya sering beli sate di sini karena dua alasan: dekat rumah dan murah. Walaupun kadang antri, tapi biasanya disajikan dengan cepat. Rasanya enak, tapi jangan berharap dagingnya besar-besar dan empuk seperti dua tukang sate besar yang saya sebutkan tadi ya. Rahasia beli sate lapak pinggir jalan gini adalah bumbu yang enak dan dibakar kering. Buat saya, kalau dua itu sudah terpenuhi, cukup lah dibungkus buat makan malam. Satu porsi sate di sini Rp. 15.000,- belum termasuk nasi atau lontong. Ayam dan Kambing harganya sama. Biasanya saya pesan campur saja. Menurut saya, kenapa Sate Cisitu ini bisa dijadikan pilihan karena bumbu kacangnya yang nikmat. Bumbunya tidak terlalu manis, jadi pas buat lidah Sunda seperti saya. Selain sate, ditawarkan juga gulai kambing. Tapi saya pribadi kurang suka dengan gulainya, kuahnya terlalu encer. Buat yang penasaran mau coba Sate Cisitu, letaknya di Jalan Cisitu Lama tidak…

View the article

Simpang Dago adalah persimpangan jalan antara Jl. Ir. H. Djuanda dengan Jl. Dipati Ukur bagian sebelah atas/Utara (karena perempatan lainnya ada di bawah/Selatan, di bawah flyover Pasupati). Mereka yang pernah kuliah di ITB Ganesa, Unpad DU, dan Unikom pasti kenal dekat dengan kawasan Simpang Dago. Letaknya juga strategis, dekat dengan wilayah penuh rumah kos di Cisitu, TB. Ismail, Siliwangi, bahkan Kanayakan sekalipun. Itulah kenapa, setiap pagi, banyak pedagang kaki lima yang berjualan di Simpang. Mereka yang mencari sarapan di Bandung, harus mengunjungi kawasan ini. Beberapa lapak makanan berikut adalah alasan untuk mencoba: Tepatnya di sebrang Pasar Simpang, berjejer penjaja makanan sejak pukul lima pagi. Salah satu yang paling dikenal orang adalah Lontong Padang Uda Pero. Terkenal dengan kuahnya yang gurih dan penuh rempah, lapak Uda Pero tidak pernah sepi pengunjung. Istri biasanya pesan Lontong Sayur dengan tambahan telur atau dada ayam, sementara saya sendiri lebih suka Lontong Pecel, tidak jauh beda dengan lontong sayur hanya saja ditambah sayuran (kangkung, kol, kacang panjang) matang dan kuah kacang. Disediakan juga rendang sapi untuk mereka yang ingin sarapan daging pagi hari. Satu porsi tanpa tambahan ayam/rendang cukup ditebus dengan uang sebesar 9.000 rupiah saja. Siapkan uang sebesar 12.000 kalau mau ditambah telur dan…

View the article

Kawasan Alkateri dikenal orang sebagai tempat untuk mendapatkan perlengkapan interior bagus dengan harga yang terjangkau, tapi akhir pekan kemarin saya dan istri berkunjung ke Alkateri untuk secangkir kopi. Kopi Purnama dikenal sebagai tempat berkumpulnya Kokoh-Kokoh yang punya toko di sekitar Alkateri. Jangan heran kalau ketika berkunjung ke sana kita mendapati satu atau dua meja diisi mereka, dari yang muda sampai yang rambutnya memutih. Sekedar ngopi, ngemil dan baca koran ujar salah satu dari mereka yang sempat saya ajak ngobrol. Beberapa kali saya datang ke sini kehadiran mereka seolah menjadi ciri khas tempat ini, ada kehangatan dan keakraban yang membuat suasana jadi lebih hidup. Kehangatan khas warung kopi, dengan wujud sebuah cafe yang lebih modern. Daya tarik tersendiri. Fokus istri saya pagi itu adalah Roti Kukus Sarikayanya yang terkenal, jadi dia pesan itu dan Kopi Susu. Saya sendiri merasa bahwa sarapan roti dan kopi bukan seperti biasanya akan menimbulkan masalah, pertama kurang kenyang kedua potensi bolak-balik ke toilet, jadi saya memilih Lontong Cap Gomeh yang juga favorit di Kopi Purnama. Minumnya cukup air mineral. Saya bukan penggemar kopi, tapi untuk ukuran orang yang jarang minum kopi saat mencoba ternyata saya menyukai Kopi Susunya. Pun begitu dengan roti kukusnya yang empuk dan…

View the article
@