Kedai makanan khas Jepang ini menawarkan ramen yang bisa dipesan kapan saja, 24 jam. Tapi, apakah rasanya enak? Bagaimana dengan harganya?

Simak ulasan saya dan istri tentang ramen langganan kami.

View the article

Beberapa waktu lalu, kami kembali berkunjung ke salah satu kedai kopi yang pernah saya sampaikan dalam daftar Lima Kopi Enak di Bandung Tahun 2018 lalu, Two Cents. Two Cents merupakan pilihan pertama kami kalau mau brunch, selain karena ada banyak pilihan makanan di sana pertimbangan lainnya adalah kopinya yang enak.

View the article

Akhir-akhir ini sering kita lihat kopi yang diseduh menggunakan sebuah kantung yang disematkan di atas gelas. Kantung itu namanya drip bag, atau dripper bag, atau filter bag, dan banyak istilah lainnya. Intinya adalah sebuah kantung penyaring yang menyangga kopi agar tidak ikut turun ke dalam gelas ketika dikucuri air, atau diseduh. Kertas penyaring yang dibentuk sedemikian rupa.

View the article

Pertengahan bulan Maret ini hujan masih rajin mengguyur kota Bandung, terutama dari siang ke sore hari. Sore tadi, seperti biasa, Ami mengirim pesan “Kalau pulang beliin bakso solo ya, sekalian beli Rhinos”. Rhinos itu obat flu, bakso solo itu bakso kampung yang isinya mie kuning agak keriting, sayur, kecambah dan tentu saja bakso. Kalau lagi flu, istri saya memang paling doyan makan yang kuah-kuah anget. Di pikiran saya yang ada toko obat dan bakso solo itu ya di sekitar Superindo Dago, setelah perempatan Sulanjana-Dago sebelum pertigaan Dago-Tirtayasa. Pulang kerja langsung menuju Superindo, saya baru sadar kalau tukang baksonya pindah ke area parkir motor Superindo, sebelumnya ada di trotoar. Beberapa tukang jualan yang biasa nongkrong di trotoar Dago memang sepertinya ditertibkan. Ada dua lapak bakso di sini, seingat saya keduanya sama saja, masih bersaudara. Rasanyapun sama. Satu di area masuk parkiran, satu lagi di area keluar parkiran. Keduanya kini mundur sedikit ke belakang, masuk ke area parkiran. Saya bungkus satu porsi bakso dari penjual yang mangkal di area parkiran motor, berarti yang sebelumnya di area masuk parkiran. Penjualnya bapak-bapak tua. Yang ngantor sekitar sini pasti hafal betul dengan lapak bakso solo ini. Khas bakso solo ini adalah kuah yang bening, tidak…

View the article

Main di mall itu tidak bisa dipungkiri, enak. Adem, AC di mana-mana. Mau makan banyak pilihan, mau ngajakin anak main tinggal bawa ke Playground. Tapi kadang kalau sedang di mall juga suka bingung mau makan apa, karena kebanyakan pilihannya. Makin bingung lagi kalau mampir ke Sagoo Kitchen, karena menunya banyak pilihan. Sagoo ini ada di hampir setiap mall di Bandung, seingat saya. Ada juga yang merupakan resto terpisah di luar mall, di Trunojoyo misalnya. Sagoo Kitchen dan kopi Lay, dua ini selalu berdampingan, bersama. Yang satu menawarkan makanan khas peranakan (Asia Tenggara), satu lagi kopi dan macam-macam roti. Malam kemarin kami bertiga makan malam di Sagoo Kitchen di 23 Paskal Bandung. Letaknya di lantai 3, atau malah lantai 2 ya? Lantai 3 kalau lantai dasar digitung sebagai lantai 1. Pokoknya dia ada satu lantai dengan Miniapolis dan Blitz. Ketika disodori menu, perhatian saya langsung tertuju kepada Kwetiaw (mereka menyebutnya Kway Teow) Siam. Kenapa? Karena terlihat seperti capcay, dengan mie (atau malah so’un?) kering di sebelahnya, kwetiawnya malah tidak terlihat. Sajiannya menarik, sangat menarik. Jadi penasaran sama rasanya, oke, pesen satu porsi. Ketika makanannya datang, ternyata porsinya gede! Untung ga jadi pesen nasi. Tapi ekspektasi saya terhadap hidangannya terlampaui jauh. Hidangan…

View the article

Terakhir kali saya membeli kamera adalah sekitar tahun 2011, itupun bukan kamera yang benar-benar baru, sebuah kamera digital Kodak dengan resolusi maksimal 10 megapixel eks-display yang didapat di sebuah pusat perbelanjaan ritel. Harganya sekitar Rp. 1.200.000,- kalau tidak salah, steal deal karena harga baru kamera ini beberapa kali lipat saat itu. Kamera lama, keluaran tahun 2007 kalau tidak salah juga. Kamera tersebut lebih banyak digunakan untuk dokumentasi pribadi dan menangkap beberapa gambar untuk diunggah di Instagram pada tahun-tahun kemudian walaupun jarang karena lebih memilih kamera handphone yang jauh lebih canggih. Kualitasnya memang tidak bagus, tapi cukup membuat saya senang karena punya alat untuk mendokumentasikan beberapa kali liburan dengan teman-teman, kemudian dengan pacar yang sekarang menjadi istri saya. Juga ketika mendokumentasikan betapa mengagumkannya perempuan hamil ketika istri saya mengandung Kinanti. Seiring dengan berkembangnya teknologi kamera handphone, saya lebih memilih untuk menggunakan kamera dari handphone beberapa tahun ini. Termasuk untuk kepentingan menulis blog dan media sosial. Terutama ketika akhir tahun 2012 lalu saya mendapatkan Lumia 900, handphone pertama saya dengan lensa Carl Zeiss yang lumayan bisa diandalkan. Saya bahkan membuat blog khusus yang isinya hasil foto dari Lumia 900 ini. Tahun 2014 lalu, istri saya mulai menggunakan Android, Asus Zenfone 2, karena…

View the article

Sekitar pertengahan tahun lalu saya melewati Jalan Hasanudin, sekitar belakang RS Borromeus sampai Unpad DU, dan menemui sesuatu yang tidak biasanya. Trotoarnya kosong. Padahal kawasan ini termasuk yang banyak PKLnya, saya sering sekali makan di sekitaran ini, mulai dari cemilan seperti cilok sampai warung nasi gudeg langganan ada di sini. Ternyata saat itu telah terjadi penggusuran, kios-kios dan bangunan non-permanen itu dirobohkan. Lapak Baso (Bakso) Panghegar Mang Ade adalah salah satu PKL yang kena gusur. Itulah kenapa akhir tahun lalu lapaknya sempat menghilang. Namun tidak lama, Mang Ade akhirnya memindahkan lapaknya ke seberang lapak lama, persis di seberang lapaknya yang dulu. Kini, lapak barunya lebih nyaman karena areanya terbuka dan terasa lebih luas. Mang Ade ini dikenal dengan porsinya yang besar, selain baksonya yang enak dan ceker (kaki) ayamnya. Baksonya lembut, tidak terlalu kenyal, dan tidak berbau aneh. Beberapa bakso di pinggir jalan, tidak banyak, biasanya berbau bahan kimia yang menimbulkan asumsi penggunaan bahan pengawet yang cukup banyak. Untuk alasan kesehatan, tentu kita akan menghindari itu. Bakso yang dipakai, sudah bisa ditebak, adalah Bakso Panghegar. Pengrajin bakso asal Bandung yang kualitasnya sudah dikenal baik, halal dan bebas pengawet. Jadi, tidak perlu khawatir kalau mau jajan di Baso Mang Ade. Berjualan…

View the article

Dapoer Pandan Wangi adalah sebuah resto yang menawarkan hidangan khas Sunda. Letaknya di Jalan Patuha, sekitar Jalan Talaga Bodas, Buah Batu. Beberapa waktu lalu saya dan keluarga menikmati makan malam di Pandan Wangi, dan ini adalah ulasan singkatnya. Seperti halnya sebuah tempat makan yang dilabeli resto, Pandan Wangi menawarkan layanan penuh, diantaranya tempat yang luas, bersih dan rapi. Suasana rumah sunda jaman baheula kentara sekali, nuansa kayu dengan hiasan taman hidup di dalam area restonya. Pengunjung yang hendak makan di sini disambut pelayan yang akan mengantarkan kita ke meja yang sudah disesuaikan dengan jumlah orang yang akan makan, kalau sedang tidak penuh, kalau penuh terpaksa harus waiting list. Ada dua jenis tempat makan yang mereka tawarkan, yang pertama adalah kursi dan meja makan sementara yang kedua adalah model lesehan. Karena mengingat rombongan kami berisi dua anak batita, saya lebih memilih kursi dan meja dengan tambahan baby chair agar anak-anak bisa duduk rapi tanpa “ngarewong” orang tuanya yang lagi makan. Malam itu kami memesan gurame bakar, yang akan dimakan rame-rame, kemudian jengkol dan terong crispy yang juga akan dinikmati rame-rame. Tambahannya ada gepuk, ayam goreng, dan sop buntut. Oh ya, sambel dan lalapan di sini harus dipesan terpisah ya. Menu di…

View the article
@