“Setiap individu bertanggung jawab kepada dirinya sendiri serta kepada komitmen yang dibuatnya dengan lingkungan sosial di mana dia berada. Kepada Tuhan dan hal-hal yang tak terdefinisikan dengan mudah, biarlah dibahas orang lain yang lebih pintar” aku dengar dia bergumam, tangannya asik mencoreti buku catatan kecil. Sore itu kami duduk-duduk di beranda kamar kos, di kursi rotan. Ramona bikinkan kami satu teko teh panas manis untuk teman kue wafer kiloan yang baru aku beli tadi sebelum datang ke mari. Di depan kami suara aliran sungai bersaing konstan dengan suara lalu-lintas di seberangnya. Petir berkilatan di sela-sela gedung tinggi dengan latar belakang langit kota yang mendung. “Ini sama sekali jauh dari romantis” ujarku. Tetiba Mona menolehkan kepalanya, “Andri, coba apa tanggung jawabmu?” dia melirik, tangannya menunjuk dengan pensil. Serius sekali Ramona sore ini. “Kepada diri sendiri, adalah untuk memberinya kebahagiaan, kesehatan dan kesejahteraan serta tidak membawa ke arah kehancuran baik fisik maupun psikis” “Lalu kepada lingkungan sosialmu?” “Untuk menjalankan tanggung jawab terhadap diri sendiri tadi, aku berusaha untuk tidak melakukan hal yang bertentangan dengan mereka” angin berbalik arah, sekarang menerpa muka kami, bebauan yang khas. Dia mengangguk-ngangguk. “Kita ini orang kecil, makan wafer juga kiloan, curah. Teh kita teh lokal bahkan kemasannya…

View the article

Terlalu London

Kurang lebih ini pukul empat pagi, di kota asalku kebanyakan orang baru akan mulai membuka hari. Terbangun dari tidurnya, bersiap melangkahkan kaki mencari istilahnya sesuap nasi. Padahal tidak semuanya hanya dapat sesuap. Tidak semuanya juga bangun sepagi ini, aku hanya anggap ini akan bagus sebagai pembuka sebuah cerita. Walaupun ternyata seadanya. Tapi ini London, di sini beda, banyak orang baru memejamkan mata pukul empat pagi, apalagi ini akhir pekan. Kapan mereka tidur? James, kenalanku dari Yorkshire yang sekolah di London sini pernah bilang, “Hidup terlalu pendek untuk dihabiskan dengan tertidur”. James tinggal di London terlalu lama atau dia terlalu sering menonton 007, entahlah. Ya, London ini serba terlalu. Aku terlalu tua datang ke sini, dan terlalu sebentar. London terlalu sempurna untuk imajinasiku. Terlalu jauh. Terlalu banyak yang aku sukai datangnya dari sini. Terlalu setia aku mencintai kota yang tidak pernah dapat aku rasakan cintanya. Ini terlalu jauh, mari kita kembali ke seberang perempatan Coburg di mana orang-orang muda baru saja keluar dari Bree Louise. Mereka tampak bahagia. Meskipun beberapa tergeletak tak sadar dia di mana, dan lihatlah ke arah Euston sana, dua gadis muda itu sedang buang air kecil sambil berdiri di trotoar. Oh, mereka tertawa. Tertawa tanda bahagia, bukan?…

View the article

Ramona

Ramona menekuk tubuhnya, tangannya mencengkram erat bahuku, nafasnya tertahan, matanya terpejam dengan mulut menganga. Seketika ia lemparkan kepalanya ke belakang, tubuhnya sekarang tercentang sempurna. Lengkuhan panjang menyertai lepasnya cengkraman jemari di pundakku, Ramona kini terlentang, tubuh kami licin karena peluh. Padahal ruangan itu berpengatur suhu. Detik-detik yang kami tunggu sejak kurang lebih satu jam yang lalu selesai, terlewati dan kami memuji Tuhan atas pemberianNya. “Ini, kita meraihnya, memilih satu dari jutaan atau bahkan lebih yang disediakanNya” kepala kami berjauhan, pinggul kami masih saling melekat, hanya karena aku tahan dengan kedua tangan. Di stereo, Joey Ramone mengawali Carbona Not Glue, Wondering what I’m doing tonight I’ve been in the closet and feel all right.. Peluh cepat mengering, kami memilih menyalakan rokok dan meminum sisa air di gelas masing-masing. Ramona duduk di ujung tempat tidur di depanku, sedikit membungkuk dengan tatapan kosong. aku sibuk mencoba membaca rajah serupa kalimat dengan tulisan sambung gaya lama di sisi kanan punggungnya. Hidup untuk diri sendiri dan apa yang diyakini. “Kita bisa saja setiap hari seperti ini, kapanpun kamu atau aku mau, kita bercinta. Dari matamu, itu yang kamu inginkan bukan?” Ramona memecah hening. Aku diam tak bersuara, asik memainkan bentuk asap rokok. “Tapi itu akan…

View the article

Setelah sekian waktu akhirnya selalu datang saatnya berbagi dengan diri sendiri, aku namakan ini monolog kesadaran. Aku suka melihatmu di Minggu pagi, hanya dengan pakaianku dan pakaian dalam putihmu. Kemeja lengan panjang yang longgar itu tidak kunjung sanggup menutupi kecantikan tubuhmu, bahkan ketika itu adalah kesekian kalinya kamu mencoba. Ternyata memang dibuat seperti itu. Aku juga suka Sabtu sore, ketika sibuk dengan pengolah kata sesekali mengintipmu menyiram tanaman di pekarangan melalui jendela. Merebut perhatian, dan senyuman itu sungguh membunuh akal sehat. Ternyata memang dibuat seperti itu. Di Jum’at siang tidak pernah ingin aku lewatkan melihatmu berjalan melintasi parkiran, tersenyum dari kejauhan. Kita seakan saling mencuci lelah. Bosan tentu salah arah, jauh dari menemukan kita. Ternyata memang dibuat seperti itu. Dan aku masih ingat Kamis pagi, ketika menemukan rajah mungil di balik blus putihmu. Kamu memaksaku menghentikan waktu. Ternyata memang dibuat seperti itu. Rabu, tengah hari, kita berhasil menjauhkan sekitar. Kata-kata yang kita buat binar. Menyusun diri di udara, membangun jembatan yang bahkan lebih pekat dari asap-asap yang kita hembuskan. Ternyata memang dibuat seperti itu. Selasa pagi itu, tanpa sengaja kita saling berhadapan, membangun alibi bukan untuk diri sendiri. Menjaga agar selalu berada dalam kotak masing-masing, tapi seolah bebal selalu berusaha…

View the article

Mandor Kareta

Tujuh jam setiap harinya saya duduk di sini, bosan memang, tapi ini demi kebaikan. Kebaikan dan beberapa kilogram beras, juga lembaran rupiah yang tidak banyak. Seringnya, kebaikan hanya jadi nomor kesekian, perut itu permasalahan utama. Saya mandor di beberapa proyek kecil dan tidak tetap, kalau ada pekerjaan dari kelurahan, saya ikut. Bukan jadi mandor sebenarnya, lebih ke keamanan. Mandor itu panggilan dari mereka yang kenal saya, mungkin karena saya sering terlihat di proyek tapi tidak bekerja sebagai kuli. Proyek-proyek kecil itu seperti perbaikan jalan, perbaikan saluran air, atau hanya sekedar pengecatan pembatas jalan. Tidak pernah pasti kapan proyek itu datang, kalau Pak Lurah sedang baik hati menyalurkan dana pada tempatnya, berarti saya punya pekerjaan. Karenanya, bisa dibilang pekerjaan utama saya menjaga pintu perlintasan kereta api ini, tujuh jam per hari, enam kali seminggu. Mungkin itulah kenapa saya dipanggil Pak Mandor Kareta (Kereta dalam Basa Sunda). Ada tiga orang penjaga tetap di perlintasan ini, saya dan dua orang lainnya. Kami membagi tugas, masing-masing tujuh jam giliran jaga. Tiga jam sisa fleksibel, biasanya jeda tiap giliran kami isi berdua dengan yang akan mengganti. Lagipula, ada waktu kosong di mana kereta tidak akan lewat, ini juga tidak tentu, tergantung jadwal dari PT Kereta Api (PTKA). Jadi…

View the article
@