Jarang-jarang nih saya ulas makanan atau jajanan yang lokasinya di Bandung Timur, tapi yang satu ini memang tidak boleh dilewatkan. Seperti biasa setiap weekend saya pulang ke Gedebage, dan memang di sekitar rumah Mamah di Gedebage jarang sekali jajanan yang enak. Biasanya kami sedikit “bertualang” ke komplek-komplek di sekitar sana kalau mau mencari jajanan, Guruminda adalah salah satunya.

View the article

Bukan biasanya saya dan keluarga makan di tempat seperti ini, Holycow! Steakhouse by Chef Afit adalah sebuah restoran khusus steak yang bertujuan untuk memperkenalkan wagyu kepada orang banyak dengan harga yang terjangkau. Lebih terjangkau tepatnya, karena tetap saja, yang namanya wagyu pasti mahal. Dan mahal lah yang membuat saya yakin, kami akan makan di sini paling banyak ya satu tahun sekali!

View the article

Kedai makanan khas Jepang ini menawarkan ramen yang bisa dipesan kapan saja, 24 jam. Tapi, apakah rasanya enak? Bagaimana dengan harganya?

Simak ulasan saya dan istri tentang ramen langganan kami.

View the article

Main di mall itu tidak bisa dipungkiri, enak. Adem, AC di mana-mana. Mau makan banyak pilihan, mau ngajakin anak main tinggal bawa ke Playground. Tapi kadang kalau sedang di mall juga suka bingung mau makan apa, karena kebanyakan pilihannya. Makin bingung lagi kalau mampir ke Sagoo Kitchen, karena menunya banyak pilihan. Sagoo ini ada di hampir setiap mall di Bandung, seingat saya. Ada juga yang merupakan resto terpisah di luar mall, di Trunojoyo misalnya. Sagoo Kitchen dan kopi Lay, dua ini selalu berdampingan, bersama. Yang satu menawarkan makanan khas peranakan (Asia Tenggara), satu lagi kopi dan macam-macam roti. Malam kemarin kami bertiga makan malam di Sagoo Kitchen di 23 Paskal Bandung. Letaknya di lantai 3, atau malah lantai 2 ya? Lantai 3 kalau lantai dasar digitung sebagai lantai 1. Pokoknya dia ada satu lantai dengan Miniapolis dan Blitz. Ketika disodori menu, perhatian saya langsung tertuju kepada Kwetiaw (mereka menyebutnya Kway Teow) Siam. Kenapa? Karena terlihat seperti capcay, dengan mie (atau malah so’un?) kering di sebelahnya, kwetiawnya malah tidak terlihat. Sajiannya menarik, sangat menarik. Jadi penasaran sama rasanya, oke, pesen satu porsi. Ketika makanannya datang, ternyata porsinya gede! Untung ga jadi pesen nasi. Tapi ekspektasi saya terhadap hidangannya terlampaui jauh. Hidangan…

View the article

Dapoer Pandan Wangi adalah sebuah resto yang menawarkan hidangan khas Sunda. Letaknya di Jalan Patuha, sekitar Jalan Talaga Bodas, Buah Batu. Beberapa waktu lalu saya dan keluarga menikmati makan malam di Pandan Wangi, dan ini adalah ulasan singkatnya. Seperti halnya sebuah tempat makan yang dilabeli resto, Pandan Wangi menawarkan layanan penuh, diantaranya tempat yang luas, bersih dan rapi. Suasana rumah sunda jaman baheula kentara sekali, nuansa kayu dengan hiasan taman hidup di dalam area restonya. Pengunjung yang hendak makan di sini disambut pelayan yang akan mengantarkan kita ke meja yang sudah disesuaikan dengan jumlah orang yang akan makan, kalau sedang tidak penuh, kalau penuh terpaksa harus waiting list. Ada dua jenis tempat makan yang mereka tawarkan, yang pertama adalah kursi dan meja makan sementara yang kedua adalah model lesehan. Karena mengingat rombongan kami berisi dua anak batita, saya lebih memilih kursi dan meja dengan tambahan baby chair agar anak-anak bisa duduk rapi tanpa “ngarewong” orang tuanya yang lagi makan. Malam itu kami memesan gurame bakar, yang akan dimakan rame-rame, kemudian jengkol dan terong crispy yang juga akan dinikmati rame-rame. Tambahannya ada gepuk, ayam goreng, dan sop buntut. Oh ya, sambel dan lalapan di sini harus dipesan terpisah ya. Menu di…

View the article

Sebetulnya bukan sebuah budaya Sunda juga makan di atas daun pisang, karena kebanyakan dari kami sehari-harinya memang makan di atas piring seperti biasa. Sepengetahuan saya makan di atas daun pisang itu menjadi kebiasaan para petani priangan yang sering nimbel (timbel, membungkus makanan dengan daun pisang). Nimbel ini gunanya agar nasi tetap hangat dan fresh ketika dibawa ke ladang atau ke sawah untuk makan siang. Di beberapa restoran masakan sunda juga banyak ditemui nasi yang dibungkus dengan daun pisang. Tapi tetap diberi piring sebagai alasnya. Di Alas Daun ini, seperti namanya, kita ditawarkan untuk makan dengan alas hanya daun pisang, tanpa piring. Jadi di atas meja, diberi daun pisang yang sudah dibakar sebentar (ini ada istilahnya tapi saya lupa), kemudian nasi dan lauknya disimpan di atas daun tadi, alas daun. Akhir pekan lalu saya dan keluarga kembali ke Alas Daun untuk kesekian kalinya. Seperti biasa, setelah ditunjukan meja dan mendapat nomor meja, kami diarahkan untuk menuju meja berisi beragam pilihan menu yang bisa kita pilih. Ragam sajian itu kemudian dimasak, kalau belum matang, atau cukup dipanaskan untuk hidangan yang sudah matang. Ada macam-macam ikan air tawar, daging ayam, cumi, udang, yang bisa dibakar maupun digoreng. Ada juga gepuk, babat, dan beberapa…

View the article

Kkuldak adalah salah satu franchise penjual snack ala Korea yang biasanya akan banyak kita temui di mall. Jualannya adalah kudapan berupa potongan ayam kecil-kecil yang dibalut tepung, digoreng sehingga menjadi kering dan renyah. Potongan-potongan ayam tadi kemudian dimasak kembali dengan saus madu, nah saus madu andalan mereka adalah saus ganjang yang terasa seperti bumbu rujak ini. Saat penyajian, mereka menambahkan ttaekpokki dan nugget kentang. Panganan tadi disajikan dalam sebuah cup kertas, dimakan dengan tusukan kayu (seperti tusuk sate). Saus ganjang ini rasanya manis, asam dan pedas. Menambahkan rasa dan aroma yang segar kepada sajian ayamnya yang gurih dan renyah. Selain saus ganjang, ditawarkan juga saus madu yang manis dan gurih, serta saus madu pedas yang tentu saja pedas. Satu porsi ukuran medium boleh ditebus dengan harga Rp. 45.000,- cukup untuk 2 orang. Berikut video kesan kami saat mencoba Kkuldak dengan saus ganjangnya:

View the article
@